Maka sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan.
Aku bisa bahagia dengan hanya membaca dua ayat tadi, ayat yang menjelaskan bagaimana Allah menjamin jika setelah kesulitan akan ada kemudahan. Bagaimana mungkin Allah tidak menepati janjinya, bukan? Dari pengalaman hidup yang runut, aku tidak bisa melupakan begitu saja kesulitan yang pernah aku hadapi, tapi untuk pertama kalinya aku benar-benar tergugah saat ibuku mengatakan 2 kalimat ayat tersebut untuk membangun rasa optimis anak perempuannya ini, agar tidak takut menghadapi kesulitan kala itu.
"Bagaimana jika, kita adalah orang yang ragu kepada janji Allah, bu?", ibuku berkata, "Mungkin kemudahan itu tidak akan bisa kita rasakan, karena kita terlalu fokus dengan kesulitan, yang padahal Allah sendiri bilang kalau setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan."
Ya, diulang dua kali. Itulah cara Allah meyakinkan kita. Jadi, buat apa kita ragu?
Beberapa kali aku membuktikan keyakinanku terhadap dua ayat tadi, salah satunya ketika menjemput jodoh. Menjemput, ya aku tidak mau menggunakan kata mencari karena jodohku tidak sedang menghilang dan aku yakin jodoh telah ditentukan oleh Allah saat sebelum kita dilahirkan ke dunia.
Banyak orang yang aku kenal dan temui, mulai dari hanya saling sapa, saling bertemu, saling mengenal lebih dalam, saling bertukar pikiran namun akhirnya tidak sejalan, saling mengukir rencana masa depan namun gagal di tengah jalan, sampai berharap pada seseorang dan yakin bahwa ia sosok yang dikirim Allah secepat itu tapi Allah berkata bukan ia.
Lelah? Iya. Kalau ada di antara kalian mengetahuinya dan menganggap aku tidak lelah dan tidak pernah putus asa, itu salah, karena aku juga manusia biasa. Hanya saja, aku tidak ingin memperlihatkan semua yang aku rasakan. Kemudian aku sadar kembali akan satu hal, pemilik harapan dan janji itu hanyalah Allah.
Bagaimana rasanya jika kita menaruh harapan kepada selain Allah? Bagaimana jika kita meyakini janji selain janjiNya Allah? Sakit. Rasanya seperti dihempaskan dari langit. Sakit sekali.
Setelah itu, aku mengubah cara untuk menjemput jodoh bukan begitu caranya. Menjemput jodoh itu harus fokus. Fokus dengan niat kita apa? Apakah hanya untuk melengkapi keseharian? Apakah hanya untuk mendukung pekerjaan kita? Apakah untuk menikah? Jika jawabannya untuk menikah, apakah niat menikah kita sudah fokus? Apakah menikah kita hanya agar tidak diceramahi mama? Apakah niat menikah hanya karena melihat teman-teman sudah menikah? Apakah niat menikah hanya karena diburu usia? Dan apakah-apakah lainnya, yang hanya diri kita sendiri yang tau jawabannya.
Kemudahan datang, setelah aku yakin, fokus dan jujur dengan diri sendiri. Apakah itu hanya keinginan atau memang kebutuhan? Apakah itu selingan atau memang prioritas?
Allah menantang diri kita lewat berbagai ujian, dan ujian itu akan terlewati jika kita menghadapinya dengan yakin, yakin jika Allah akan membersamai kita, memudahkaan niat baik kita.
Maka sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al Insyirah : 5-6)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar