Minggu, 20 Mei 2018

Best Ramadhan Ever : 2017

Aku ingat, sebelum ramadhan tahun lalu, aku bertemu dengan orang yang 'salah'. Mungkin itu adalah titik terendahku, merasakan trauma yang amat dalam, tertekan, merasakan hati yang lelah. Berharap kepada selain Allah itu memang menyesakkan, menyakitkan. Aku kira dia adalah yang terakhir dan diperkenankan Allah untuk menemaniku sampai Jannah, nyatanya bukan. Mungkin itu cemburunya Allah karena keyakinan berlebihanku membawaku kepada 'seolah ingat Allah padahal ingat yang lain'.

Sebelum ramadhan tahun lalu, aku berjanji tidak akan bolos tarawih dan tadarus Al Qur'an. Lalu aku meminta kepada Allah untuk memperlancar ibadahku dan menguatkan niatku. Berkhuznudzon kepada Allah akhirnya membuahkan hasil, aku berhasil berpuasa sebulan penuh. Merasakan hidup yang lebih bersemangat, mengurangi rasa sakit yang ada.

Hal terpenting lainnya, aku belajar memaafkan. Memaafkan diri sendiri yang merasa gagal, memaafkan orang lain yang membuat kita merasa sakit. Ramadhan tahun lalu begitu mengesankan. Seperti langsung merasakan Allah yang sedang berbisik "maafkan mereka". Menangis sepanjang hari selepaa berdoa, menangisi betapa banyak dosa-dosa yang telah aku perbuat.

Ramadhan tahun lalu mungkin memang menjadi ramadhan terbaik bagiku. Namun sayang, aku tidak ingin kembali ke masa itu. Sebab aku telah memaafkan dan tidak ingin terlalu dalam mengingatnya kembali. Cukup kujadikan pelajaran agar di ramadhan berikutnya aku bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar