Siapa yang tidak tahu apa yang aku sibukkan di 5 tahun terakhir ini? Mungkin orang-orang yang baru atau tidak mengenalku. Aku lulusan S1 Ilmu Hukum di salah satu PTN di Surabaya, dan saat itu aku menyadari bahwa menjadi sarjana hukum bukan merupakan 'passion' terbesarku. Sempat memang aku ingin menjadi seorang pengacara sukses, tapi jalan dan doa berkata lain. Orang tuaku tidak berkenan aku melanjutkan misi hidupku menyelamatkan keadilan di NKRI tercinta melalui jalur peradilan.
Aku menyembunyikan sesuatu sejak kecil, aku berharap orang terdekatku segera peka dengan apa yang aku sukai dan lakukan. Namun, saat itu sepertinya aku belum paham bahwa penting untuk kita bicara agar orang lain tahu. Sayangnya, aku tidak menyesal, karena pada akhirnya jalan dan doaku terwujud.
Saat duduk di bangku kelas 4 SD, guruku bertanya kepada para siswa satu per satu, "Ayo sebutkan apa cita-citamu!"
Seketika jari Pak Guru melayang ke wajahku, dan dengan tegas aku menjawab, "Fashion Designer."
"Udah punya idola mau jadi fashion designer seperti siapa?"
Aku ragu, sambil menjawab, "Adji Notonegoro". Pada saat itu dia memang sedang naik daun.
Setiap diajak ibu ke penjahit, aku selalu memberanikan diri meminta sisa kain perca, kadang disuruh membayar Rp 1000,-
Aku senang bukan kepalang. Lalu kubawa sekumpulan sisa potongan kain ke rumah dengan riang. Aku membeli jarum jahit dan benang di warung dekat rumah. Baju-baju bonekaku kulepas semua. Aku mengukur seru sendiri sampai lupa minum susu buatan ibu. Menggunting, menjelujur dengan tangan, menempel bahan perekat lalu kupakaikan sebagai baju baru para 'Barbie'ku.
Perlahan sirna karena seringnya mengikuti bapak pindah kesana kemari, banyaka bonekaku menghilang, mengiringi hilangnya hasrat untuk terus menjahit baju 'Barbie'. Oh, tapi tidak berhenti sampai disitu. Aku mulai mengacak-acak kotak pakaian ibuku, mencoba menemukan baju ibu yang sudah tidak terpakai. Aku mengguntingnya, menjahitnya kembali sesuai keinginanku, lagi-lagi dengan tangan. Kocak. Baju ibu kala itu muat kupakai.
Ibu marah. Ibu marah mendapati sisa potongan kain dari bajunya, di tumpukan baju di lemari bajuku. Memang sengaja kusembunyikan di tumpukan terbawah, hehe... lagi dan lagi langkahku terhenti disitu.
Memasuki SMA, aku mulai merakit mimpi. Pergi ke penjahit bersama ibu, aku lebih berani untuk detil menjelaskan potongan yang aku ingin, kain yang aku mau. Lama kelamaan langkahku terhenti lagi kala aku terlalu sibuk menjadi pelopor tim olimpiade akuntansi di sekolahku.
Tahun-tahun berlalu, kuliah hukum ku hampir selesai, saat ketika aku mulai menyadari aku bosan begini-begini saja, menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang). Selesai aku menempuh S1, harusnya aku mewujudkan impian orang tuaku melanjutkan S2 Kenotariatan, dengan bangga mereka menceritakan aku calon notaris.
Padahal tidak. Aku ingin 'memberontak'. Di sempitnya waktu, aku belajar mengambil resiko dan keputusan. Pilihanku jatuh pada tidak mengambil S2 Kenotariatan, melainkan mengambil kelas 'fashion design and sewing' di salah satu sekolah fashion informal di Surabaya.
Perjalananku dimulai ketika 2014 awal aku sukses mewujudkan kebaya impian sahabatku untuk acara akad nikahnya. Sampai saat ini, entah kenapa aku selalu merasakan kesenangan berbeda saat melihat pengantin tersenyum bahagia saat mengenakan pakaian buatanku.
Jadi, jika harus memilih hidup dengan 'dream job' tanpa peduli berapa besar nominal uangnya, I said "I want to be myself today, as a fashion designer".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar