Selasa, 17 Februari 2015

Fashion Momentum, Final Show after School

Aviator's Attack saya pilih menjadi judul pada desain ini. Terinspirasi dari profesi Pilot, saya menyuguhkannya ke dalam garis desain androgyny. Dikenal di masyarakat dengan istilah "shemale", saya tidak takut apabila -saya yang berjilbab- akan menimbulkan kontra dengan desain yang saya pilih.

Selain karena ini merupakan tugas akhir sekolah, saya jadi belajar banyak, bagaimana membuat baju yang siluetnya berbeda dengan busana muslim kebanyakan, yang memiliki siluet huruf H.


Menggunakan bahan utama kain wool, semi wool, fake fur, tidak mengesampingkan kesulitan tertentu dalam proses pembuatannya. Mulai dari desain, pemilihan bahan, membuat pola, potong pola, potong kain, sampai menjahit dan akhirnya finishing, saya lakukan sendiri.


Kesulitan dalam penguasaan mengerjakan tugas ini ada pada teknik menjahit fake fur dan menjaga tingkat kepanasan steamer yang akan digunakan untuk memproses beberapa kain yang terlalu sensitif terhadap panas yang tinggi. Misalnya ketika menyetrika semi wool dan fake fur, yang apabila salah langkah sedikit saja bisa menyebabkan gosong dan terbakar.

ups! Saya mengalaminya sebanyak 3-4 kali. hehe :)


Pertunjukan akhir mempengaruhi penilaian, setiap fashion show saya selalu mengusahakan semuanya agar lengkap looks nya dari atas sampai bawah. Maka dari itu, karena tidak menemukan topi pilot seperti yang saya inginkan, maka saya membuatnya sendiri. Kacamata, lencana, dan sepatu saya beli dengan sisa uang saku. 

Alhamdulillah semua berjalan lancar seperti apa yang saya inginkan meskipun ada miss di tata rambut karena diluar pengawasan saya.


Aviator's Attack pun mendapatkan The Best Collection di Fashion Momentum 2014.

Photo by Ochi (meidycarl)

Minggu, 15 Februari 2015

Liburan Bangkok ! (Part 1)

Tahun 2014 saya merasa beruntung, karena bolak-balik merancang liburan ke luar negeri di 2014 tapi belum kesampaian. Liburan ke Bangkok ini antara hadiah dari Tuhan dan hadiah dari kakak, karena dengan sangat beruntungnya saya yang iseng-iseng ikut antrian Liburan CK (Claudia Kaunang) 100dollar, mendapat email balasan untuk mengikuti program ini, dan dibayar tunai oleh kakak saya.

Pertama sampai kota Bangkok, Subhanallah Alhamdulillah sudah langsung disambut bangunan-bangunan dengan detil yang belum pernah saya temui di Indonesia.







Begitu pula pada bagian dinding yang dihiasi dengan "mural" buatan tangan-tangan pekerja profesional, yang disesuaikan dengan cerita legenda, atau bisa kita lihat semacam "relief" di candi-candi Indonesia.





Tidak akan pernah menyesal berkunjung ke Bangkok, Thailand.

Sabtu, 14 Februari 2015

Batik Tanjungbumi dan Tahun Baru Cina ?

Apa hubungannya?

Saya juga tidak tahu. Tidak ada hubungan apapun sepertinya, karena saya memang senang dengan warna merah dan, tepat sekali waktunya dengan tahun baru Cina.


Make Up by Tiara Febrina MUA
Muse : Riesta Aldilah
Photo by Novi Kurniawan LifeFusion Surabaya
Location : Taman Kompleks Tugu Pahlawan

Perpaduan kain merah lame jaquard motif bunga mawar dan batik Tanjungbumi, Bangkalan, Madura. Ditambah ornamen sederhana di bagian krah "shanghai" nya, sebagai pemanis pada "dress" ini,


Jumat, 13 Februari 2015

The New Designer 2014

3rd winner!
Betapa terkejutnya saya ketika mendapatkan predikat tersebut, mungkin sudah dapat dibaca jelas bahwa niat saya memang bukan menjadi pemenang di kompetisi ini. Saya ingin menunjukkan desain saya yang menurut beberapa orang "nyentrik" karena garisnya tegas dan terlalu "simple".


Desain ini terinspirasi oleh "brand" kesukaan saya, "The Executive" yang sukses memadukan warna hitam dan putih, yang saya beri judul "Monochromatic Urbanashion".


Saya bukanlah penyuka banyak detil. Oleh karena dalam kompetisi ini diharuskan menggabungkan unsur budaya Indonesia, saya menambahkan batik tulis motif kawung.


Jika dilihat sepintas, orang pasti tahu ini merupakan batik yang sering beredar di pasar tradisional. Bagi yang sering jalan-jalan ke pasar Klewer (yang terbakar beberapa bulan lalu, hiks..) atau pasar Bringharjo yang letaknya ditengah kompleks Malioboro. Mengapa saya memilih kain ini sebagai bahan pendukung di desain saya?


Jawabannya :
Karena saya ingin menjadikan kain yang harga jualnya di pasaran rendah, bisa menjadi menarik jika dipadukan dengan desain yang baik.



Bahan baku lame "jacquard" selalu membuat saya merasa "gemes". Mungkin kalau saya memilih kain berwarna putih biasa tanpa serat yang khusus, akan jadi lebih biasa lagi. Bahan pendukung lainnya, saya menambahkan kain hitam velvet (yang biasanya dipakai pada kostum penari jawa) dan satin velvet.


Photograph by Novi Kurniawan LifeFusion Surabaya
MakeUp by Iris Liaw
Stylist by Urulia Yashinta
Muse : Welin // Tiara // Icha

The New Designer, Local Spirit!