Tampilkan postingan dengan label #penulisindonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #penulisindonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Mei 2018

Doa yang Terkabul adalah Kado Terindah

Dalam keseharian, kita tidak akan pernah terlepas dari doa, entah secara sadar atau tidak, kita lebih sering menyebut doa dengan 'semoga'.

Allah pun berfirman melalui ayat Al Quran yang berbunyi :
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al Baqarah : 186)

Namun, kali ini aku bicara bagaimana doa bisa menjadi kado terindah yang kita terima.

Suatu hari di akhir tahun 2012, aku berdoa suatu hari impianku bisa terkabul, yakni menjadi orang yang lebih baik dari hari ini, entah faktor dari hidayah yang ku jemput atau keajaiban Illahi. Bertahun-tahun aku menikmati doa yang satu itu, sampai pada suatu hari aku bertemu seorang teman lama yang mengetahui apa doa yang aku panjatkan akhir-akhir ini.

Ia berkata, doaku itu amatlah baik, tetapi sayangnya kurang spesifik. Ia begitu percaya bahwa doa akan terkabul jika kita memohon sungguh-sungguh dan jelas. Meskipun semua orang tahu, Allah Maha Mengetahui, termasuk mengetahui isi hati kita yang terdalam. Namun, sebuah doa merupakan permohonan yang terucap, semakin jelas apa doa kita, maka akan semakin baik. Begitu katanya.

Perlahan-lahan aku mencoba mengubah rapalan doaku. Tidak sebentar. Tidak terlalu lama juga. Apa yang aku panjatkan terpenuhi.

Begitu seterusnya. Doa seperti kamu mengayuh sepeda, mungkin terkadang kamu akan lekas sampai, mungkin juga tujuanmu masih panjang. Doa tidak bisa kita perintah untuk lekas sampai ke tujuannya, tapi kita bisa terus melakukan doa agar apa yang kita 'kayuh' suatu hari akan sampai. Doa yang terkabul adalah hadiah, karena terkabulnya doa merupakan pemberian dari Yang Maha Memberi.

Yaitu Allah, yang akan memberi apa yang kita minta.

Kamis, 24 Mei 2018

When I am Down...

Suatu hari aku pernah merasa tidak sedang berlari tetapi jalan yang aku lalui sangatlah lancar bak jalan tol Pandaan di hari kerja. Namun, pernah juga merasakan ketika berjuang mati-matian, lalu merasa hidupku segitu-gitu saja. Merasa orang lain yang mengambil start point di belakangku, lebih mulus mencapai garis finishnya ketimbang aku yang memulai terlebih dahulu.

Pernahkah kamu, merasakan seperti yang aku pernah rasakan? Sepertinya Tuhan terlihat lebih senang menguji kita terlalu sulit daripada orang-orang di sekitar kita.

Namun, ternyata pemikiran seperti itu salah. Tuhan selalu memberikan ujian sepaket dengan kunci jawabannya. Entah jawabannya akan kita temukan sekarang, nanti, atau ternyata ada jawaban lain yang lebih baik untuk kita.

Ketika berada di keadaan paling terpuruk, tidak tahu lagi harus berbuat apa selain berdoa, biasanya aku meluangkan waktu untuk merenung. Merenung adalah bagian dari hidupku sejak dulu, apapun akan aku renungkan, tidak hanya hal yang menyedihkan, tetapi juga hal yang membuatku senang.

Merenung biasanya tidak ku lakukan di ruangan sepi sendiri, aku lebih senang keluar rumah, mengendarai motor matic kesayangan, atau sepeda gunung yang lebih sering nganggur di garasi rumah. Selain merenung, ada kegiatan lain yang sering aku jadikan sarana refreshing dan relaksasi, yakni berenang.

Menyenangkan diri sendiri itu mudah. Jangan karena kita banyak merasakan hambatan lantas kita menjadi murung dan sedih tidak karuan sampai-sampai membatasi semangat di dalam diri untuk menghadapi kehidupan yang sebentar ini.

Rabu, 23 Mei 2018

Who is Your True Love?

Kata orang, keluarga merupakan sumber kasih sayang. Banyak diantara kita tidak menyadari, sekian lama waktu berlalu, apa yang telah kita lakukan, benar salahnya, hanya keluarga yang bisa terus menerima keadaan kita, yang belum tentu orang lain menerimanya.

Diantara kita mungkin juga lupa, ketika menemukan orang baru yang menyatakan perhatian dan perasaannya pada kita, membuat kita lupa bahwa keluarga adalah pihak yang lebih dahulu menyayangi kita. Hanya saja, keluarga jarang mengungkapkan dengan kata dan perbuatan yang 'fresh' sehingga terlupakan, atau tidak kita sadari?

Beberapa kawan yang telah menikah, lalu harus mengikuti suaminya, tinggal jauh dari keluarga, selalu mengatakan hal ini kepadaku, "Ga ada orang yang akan nerima kamu, sayang sama kamu, melebihi sayangnya orangtua ke kamu."

Aku tinggal terpisah rumah dari orangtua sekitar kelas 3 smp, dengan sangat terpaksa waktu itu karena bapak harus pindah dinas saat aku akan menempuh ujian nasional. Waktu itu aku senang sekali karena merasa bebas dari pantauan orangtua, sudah boleh pegang hp, mau jalan keluar rumah sampai malam juga tidak ada yang marah-marah.

Sampai aku menyadari saat kuliah. Orangtuaku yang berada di Jember, aku di Surabaya. Pulang pun tidak tentu dua bulan sekali. Pernah saat aku benar-benar kritis keuangan karena pemakaian uang saku berlebihan, dan kondisi pun sedang sakit. Aku bukan tipikal orang yang jika sedang susah, akan mengadu pada orangtua. Sengaja saat itu aku tidak memberikan kabar kepada orangtuaku bahwa aku sakit.

Namun, ketentuan Tuhan berkata lain. Tiba-tiba bapak ibuku datang ke kosku keesokan harinya.
Ibu berkata, "Ibu ngerasa ga enak perasaan tentang kamu."

Hal itu, terjadi sampai detik ini. Orangtuaku adalah manusia paling baik sedunia, paling peka, dan mereka selalu mengajarkan kepadaku untuk tidak berhutang budi pada orang lain. Mereka selalu bilang kalau ada masalah, mereka mau jadi orang pertama yang tau tentang masalahku. Mereka juga yang menerima sifat sikapku mulai dari yang baik sampai yang kurang baik.

Dari orangtuaku aku belajar menjadi yang terbaik untuk siapapun orang yang aku sayangi dan cintai, dan tidak membalas dendam kepada orang yang menyakiti.

Selasa, 22 Mei 2018

Jangan Putus Asa, Janji Allah itu Pasti

Maka sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan.

Aku bisa bahagia dengan hanya membaca dua ayat tadi, ayat yang menjelaskan bagaimana Allah menjamin jika setelah kesulitan akan ada kemudahan. Bagaimana mungkin Allah tidak menepati janjinya, bukan? Dari pengalaman hidup yang runut, aku tidak bisa melupakan begitu saja kesulitan yang pernah aku hadapi, tapi untuk pertama kalinya aku benar-benar tergugah saat ibuku mengatakan 2 kalimat ayat tersebut untuk membangun rasa optimis anak perempuannya ini, agar tidak takut menghadapi kesulitan kala itu.

"Bagaimana jika, kita adalah orang yang ragu kepada janji Allah, bu?", ibuku berkata, "Mungkin kemudahan itu tidak akan bisa kita rasakan, karena kita terlalu fokus dengan kesulitan, yang padahal Allah sendiri bilang kalau setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan."

Ya, diulang dua kali. Itulah cara Allah meyakinkan kita. Jadi, buat apa kita ragu?

Beberapa kali aku membuktikan keyakinanku terhadap dua ayat tadi, salah satunya ketika menjemput jodoh. Menjemput, ya aku tidak mau menggunakan kata mencari karena jodohku tidak sedang menghilang dan aku yakin jodoh telah ditentukan oleh Allah saat sebelum kita dilahirkan ke dunia.
Banyak orang yang aku kenal dan temui, mulai dari hanya saling sapa, saling bertemu, saling mengenal lebih dalam, saling bertukar pikiran namun akhirnya tidak sejalan, saling mengukir rencana masa depan namun gagal di tengah jalan, sampai berharap pada seseorang dan yakin bahwa ia sosok yang dikirim Allah secepat itu tapi Allah berkata bukan ia.
Lelah? Iya. Kalau ada di antara kalian mengetahuinya dan menganggap aku tidak lelah dan tidak pernah putus asa, itu salah, karena aku juga manusia biasa. Hanya saja, aku tidak ingin memperlihatkan semua yang aku rasakan. Kemudian aku sadar kembali akan satu hal, pemilik harapan dan janji itu hanyalah Allah.

Bagaimana rasanya jika kita menaruh harapan kepada selain Allah? Bagaimana jika kita meyakini janji selain janjiNya Allah? Sakit. Rasanya seperti dihempaskan dari langit. Sakit sekali.

Setelah itu, aku mengubah cara untuk menjemput jodoh bukan begitu caranya. Menjemput jodoh itu harus fokus. Fokus dengan niat kita apa? Apakah hanya untuk melengkapi keseharian? Apakah hanya untuk mendukung pekerjaan kita? Apakah untuk menikah? Jika jawabannya untuk menikah, apakah niat menikah kita sudah fokus? Apakah menikah kita hanya agar tidak diceramahi mama? Apakah niat menikah hanya karena melihat teman-teman sudah menikah? Apakah niat menikah hanya karena diburu usia? Dan apakah-apakah lainnya, yang hanya diri kita sendiri yang tau jawabannya.

Kemudahan datang, setelah aku yakin, fokus dan jujur dengan diri sendiri. Apakah itu hanya keinginan atau memang kebutuhan? Apakah itu selingan atau memang prioritas?
Allah menantang diri kita lewat berbagai ujian, dan ujian itu akan terlewati jika kita menghadapinya dengan yakin, yakin jika Allah akan membersamai kita, memudahkaan niat baik kita.

Maka sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al Insyirah : 5-6)