Meskipun aku tahu kamu pernah merasa sesak ketika tahu orang terdekatmu berkhianat, aku tak yakin sepenuhnya hatimu merasa berkecamuk mendendam, atau bisa jadi langsung memaafkan. Atau sebenarnya kamu tak bisa menahan? Sehingga tidak kuasa berlinang air mata, yang sebenarnya tak ingin kamu keluarkan untuk seorang pengkhianat?
Duaribu duabelas akhir dadaku berkecamuk. Tanpa sepatah kata perang, ia memutuskan untuk berpisah denganku. Tanpa ada tanda-tanda dia akan berpaling. Sangat rapi. Rapi sekali.
Ku terdiam, bukan karena aku bersedih, mengutuknya. Aku justru mempertanyakan, apa yang salah dengan diriku sehingga harus mengalami pengkhianatan serapi ini. Saat itu aku akhirnya tahu, beberapa minggu setelah kejadian itu. Ia bersama yang lain.
Berbulan-bulan aku mencari tahu apa salahku sampai diperlakukan sebegitunya. Sampai detik ini, aku tak pernah tahu. Yang aku dengar hanya, menurutnya aku terlalu baik buat dia.
Di luaran sana orang berlomba-lomba mencari yang terbaik buat dirinya, mengapa ia mengatakan ia tak bisa lagi denganku karena aku terlalu baik?
Berbulan-bulan lamanya pula aku menyendiri. Mencoba percaya bahwa ini bukanlah mimpi.
Mencoba percaya bahwa janji Tuhan itu pasti.
Pengkhianatan memang pahit, tetapi tidak selalu berujung pahit. Kamu bisa menikmatinya, berdamai dengan dirimu sendiri, berdamai dengan orang yang mengkhianatimu, berdamai dengan keadaan.
Tidak semua orang dikaruniai sifat pemaaf. Maka coba maafkanlah dirimu sesegera mungkin. Maafkanlah mereka secepat kamu bisa memaafkan. Sebab, bisa jadi hari ini adalah yang terakhir kalinya kamu bisa melakukan sebuah kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar